Halaman

Jumat, 22 Februari 2013

Ridwan Kamil : Perbaiki Bandung



Bandung yang sekarang secara ekonomi dapat dikatakan berdinamika sangat tinggi. Hal tersebut dibuktikan dengan kedatangan wisatawan rata-rata 6 juta per tahun yang memicu kebutuhan komoditi hotel dan bisnis-bisnis lainnya. Kemudian Bandung dari dulu merupakan kota pendidikan, yang menyebabkan banyak sekali masuknya hal-hal investasi dan mendatangkan populasi lumayan besar.
Yang jadi permasalahan saat ini adalah infrastruktur kota tidak mengalami banyak perubahan. Bandung saat ini semakin mendapat tekanan dari pertumbuhan ekonomi yang  berakibat banyak masalah dari sisi infrastruktur. Di antara masalah tersebut adalah banjir, macet, sampah dan pedagang kaki lima. Itu empat adalah permasalahan Kota Bandung yang hari ini sangat kuat. Jika mampu diatasi, Bandung lima tahun ke depan akan jauh lebih baik.
Untuk mengatasi macet pemerintah dapat melakukan percepatan infrastruktur untuk transportasi masal. Busway ditambah, karena sekarang baru ada dua jalur. MRT monorail yang investronya sudah ada, harus segera direalisasikan. Selanjutnya bicycling diperbanyak di seluruh daerah sebagai alternatif kendaraan. Kemudian dapat melakukan peremajaan angkutan kota dan pendisiplinan lalu lintas, karena banyak parkir sembarangan, terutama di pasar tumpah. Angkot-angkot kaki lima juga menghabiskan badan jalan.
Masalah banjir dapat dilihat dari adanya sungai di bandung yang hanya 40 sungai, itu pun sudah cukup sempit dan dangkal. Akibatnya adalah air turun ke jalan, karena sungainya sering macet dan gorong-gorongnya rusak. Dulu, sebelum banyak tekanan dari pemukiman, sungai di Bandung lebar dan dalam. Sungai yang sempit dan dangkal, gorong-gorong tersumbat, tanah-tanah hijau yang sudah jadi beton, merupakan tiga hal yang menyebabkan banjir cepat terjadi.
Untuk mengatasi masalah sampah, inovasi manajemen sampah oleh berbagai pihak masih banyak masalah. Saat ini pengelolaannya konvensional. Program pengurangan sampah masih jadi kampanye utama. Penyebab lain adalah karena semakin tinggi jumlah penduduk dan semakin besar konsumsinya. Jadi selain memperbaiki persampahan, gaya hidup masyarakat yang mengonsumsi dan menghasilkan sampah juga harus dikurangi.
PKL harus diatasi segera terkait dengan banyak yang mengambil badan dan bahu-bahu jalan, bahkan  sekarang merambat ke taman-taman kota. Satuan Polisi Pamong Praja merupakan salah satu dinas yang harus direformasi, diperbesar, diperbarui karena banyak pelanggaran-pelanggaran tata ruang yang sehari-sehari terjadi di Kota Bandung.
Bandung merupakan kota yang cukup memiliki identitas. Di antaranya identitas pusat ekonomi kreatif indonesia, identitas pariwisata urban, dan identitas pendidikan. Hal tersebut membuat jelas arahnya mau ke mana untuk memperbaiki Bandung. Sejauh ini ada dua cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki Bandung: memperbaiki infrastruktur dan mengurangi beban.
Memperbaiki infrastruktu tadi sudah dijelaskan. Mengurangi beban dapat dilakukan dengan memindahkan fungsi-fungsi yang sudah tidak relevan ke luar kota. Membuat pusat pertumbuhan baru, yang sebelumnya ramai di tengah ke utara menjadi ke selatan timur atau barat. 
Bandung juga harus punya sistem zonasi. Bangunan-bangunan tinggi yang di utara sebaiknya diratakan ke tengah timur barat. Selanjutnya, sebaiknya tidak ada lagi pembangunan di daerah utara. Boleh saja membangun, tapi ada fungsi-fungsi atau kepadatan-kepadatan yang harus diatur. Bandung saat ini masih kekurangan RTH nya, masih di bawah 10 %. Pemerintah harus ada program pembelian lahan yang dikonversi menjadi RTH.
Pemerintah harus pnnya gagasan yang inovatif dngan menyertakan warga bandung. Sekarang dapat dilihat warga-warga yang kompak di bandung itu sudah sangat banyak. Saya sendiri memiliki 100 gagasan  yang merupakan ide-ide yang praktis yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan Bandung. 100 gagasan ini merupakan mimpi dari lima tahun yang lalu dan lima di antaranya sudah terealisasikan.
Lima di antaranya adalah berkebun di kota serta bicycling, sudah ada 10 halte yang bisa digunakan warga untuk bergerak dalam jarak dkat. Kemudian ada program satu taman satu komunitas. Sekarang sudah ada taman-taman songkeng, cempaka, angklung, yang merupakan taman-taman yang terbengkalai lalu diadopsi oleh beberapa komunitas. Solusi banjir dengan biopori juga sudah terlaksana bekerja sama dengan beberapa media. Yang terakhir adalah program satu kampung satu taman bermain dengan memanfaatan taman yang dibeli pihak swasta untuk jadi taman bermain. Afif-mj03

1 komentar:

  1. saya setuju dengan 4 mslah d kota bdg, saran buat mslah sampah koordinasi deng KBB, Tahura karena awalny dari daerah lembang masuk sampah ke Cikapundung
    pemecahan macet salah satu nya penertiban PKL dan pengadaan Bus sekolah mungkin bisa meminimalisir kemacetan

    BalasHapus