Halaman

Jumat, 22 Februari 2013

Dialog Tari STSI Bandung Mencoba Kembali Menyatu dengan Alam



Para pemuda tersebut terlihat semangat mempelajari tarian rakyat nusantara. Perlahan, mulai dari pemanasan, mempelajari pola gerakan dan memaham makna, hingga menyatukan gerakan dengan musik, mereka terlihat menikmati indahnya gerakan tari rakyat. Padahal, tari rakyat yang diajarkan merupakan tari rakyat khas Jawa Barat, namun yang belajar tari mayoritas bukan pemuda dari Jawa Barat.
Tarian rakyat, merupakan salah satu bentuk konkret apa yang diajarkan alam kepada nenek moyang kita dahulu, yang berkembang dan dapat dilestarikan hingga sekarang. Tarian rakyat pun berbeda-beda maknanya di setiap daerah di nusantara. Beda lingkungan, beda pula cara masyarakat terdahulu menerjemahkannya.
Dalam acara Dialog Tari, tarian rakyat menjadi sebuah kebanggaan dan subjek yang diangkat untuk mengembalikan makna bahwa tarian tradisional nusantara berasal dari alam. Kegiatan yang merupakan acara tahunan Himpunan Mahasiswa Jurusan Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung tersebut merupakan acara yang kedua kalinya digelar, yang mana pada tahun sebelumnya mereka mengangkat “tarian urban” sebagai subjek.
Menurut Koordinator Leisen Officer Dialog Tari Arniz Yulia Imansari, acara ini bertemakan ‘Kembali pada kesadaran biocultural diversity dalam realita tubuh dan jiwa’. “Maknanya adalah bagaimana kita menyadari bahwa kita dapat menyatu dengan alam, salah satunya dengan tarian rakyat,” katanya. Ia menambahkan, salah satu esensi dari tari rakyat yang merupakan berasal dari alam adalah, tarian berpasangan laki-laki dan perempuan yang menyatu hingga memberikan sebuah cinta.
Tarian rakyat merupakan tari yang diajarkan mulai dari pemahaman dasar, hingga pola gerakan dan perpaduan dengan musik, pada kategori Wokrshop Tari, di acara Dialog Tari. Pada workshop tersebut, yang memberikan materi dan pelatihan adalah dosen Jurusan Tari STSI, Yedi Heryadi. Pada workshop tersebut, Yedi dibantu oleh beberapa penari dari STSI memperagakan tarian rakyat khas Jawa Barat kepada peserta yang mayoritas bukan orang Jawa Barat.
Menurut Arniz, yang diundang sebagai peserta workshop tersebut merupakan mahasiswa jurusan seni tari dari berbagai daerah Indonesia. “Tadinya mengundang dari berbagai daerah seperti dari Padang Panjang, Denpasar, Yogya, Surabaya, Solo dan Bandung. Tapi ternyata yang datang Cuma dari Surabaya, Solo dan Bandung,” ujarnya. Ia menambahkan, peserta dari Surabaya 9 orang, Solo 13 orang penari dan 7 pemusik, kemudian dari Bandung 11 orang, yaitu dari Universitas Pendidikan Indonesia.
Arniz mengatakan, selain workshop tari rakyat, sebelumnya acara yang diketuai oleh Risa Heryani Amanah tersebut telah mengadakan Seminar dengan tema yang sama. “Pembicaranya adalah dosen STSI Bandung juga, FX Widaryanto dan Toto Amsar Suanda,” katanya. Selain itu juga ada penampilan tari-tarian yang dibawakan oleh para undangan, yakni tarian daerah khas mereka masing-masing.
Yedi Heryadi, selaku pemberi materi pada workshop tari rakyat mengatakan bahwa tarian yang ia ajarkan merupakan tari Ketuk Tilu yang diiringi musik tari Gaplek. “Tari tersebut bermakna sebagai tari yang disukai dan penyemangat bagi para jawara,”katanya menjelaskan. Ia menambahkan, tari tersebut mengandung banyak unsur pencak silatnya.
Yedi melanjutkan, tarian rakyat Jawa Barat memiliki perbedaan tersendiri dengan tarian rakyat khas Solo. “Tarian rakyat Solo cenderung mengarah pada kehidupan keraton,” katanya. Ia menambahkan, makna di Jawa Barat berbeda, yaitu tergantung pada daerah masing-masing. “Di Garut bermakna pencak silat, di Subang lebih bermakna untuk upacara,” katanya.
Menurut Yedi, saat ini tarian rakyat, khususnya tarian Ketuk Tilu peminatnya dapat dikatakan sedikit. “Tarian ini dulu sangat menarik pada tahun ‘70-‘80an. Sekarang tinggal orang tua saja yang banyak melestarikannya,”katanya. Afif-mj03

Tidak ada komentar:

Posting Komentar