Para pemuda tersebut terlihat
semangat mempelajari tarian rakyat nusantara. Perlahan, mulai dari pemanasan,
mempelajari pola gerakan dan memaham makna, hingga menyatukan gerakan dengan musik,
mereka terlihat menikmati indahnya gerakan tari rakyat. Padahal, tari rakyat
yang diajarkan merupakan tari rakyat khas Jawa Barat, namun yang belajar tari
mayoritas bukan pemuda dari Jawa Barat.
Tarian rakyat,
merupakan salah satu bentuk konkret apa yang diajarkan alam kepada nenek moyang
kita dahulu, yang berkembang dan dapat dilestarikan hingga sekarang. Tarian
rakyat pun berbeda-beda maknanya di setiap daerah di nusantara. Beda
lingkungan, beda pula cara masyarakat terdahulu menerjemahkannya.
Dalam acara Dialog
Tari, tarian rakyat menjadi sebuah kebanggaan dan subjek yang diangkat untuk
mengembalikan makna bahwa tarian tradisional nusantara berasal dari alam.
Kegiatan yang merupakan acara tahunan Himpunan Mahasiswa Jurusan Tari Sekolah
Tinggi Seni Indonesia Bandung tersebut merupakan acara yang kedua kalinya digelar,
yang mana pada tahun sebelumnya mereka mengangkat “tarian urban” sebagai
subjek.
Menurut
Koordinator Leisen Officer Dialog Tari Arniz Yulia Imansari, acara ini
bertemakan ‘Kembali pada kesadaran biocultural diversity dalam realita tubuh
dan jiwa’. “Maknanya adalah bagaimana kita menyadari bahwa kita dapat menyatu
dengan alam, salah satunya dengan tarian rakyat,” katanya. Ia menambahkan,
salah satu esensi dari tari rakyat yang merupakan berasal dari alam adalah,
tarian berpasangan laki-laki dan perempuan yang menyatu hingga memberikan
sebuah cinta.
Tarian rakyat
merupakan tari yang diajarkan mulai dari pemahaman dasar, hingga pola gerakan
dan perpaduan dengan musik, pada kategori Wokrshop Tari, di acara Dialog Tari.
Pada workshop tersebut, yang
memberikan materi dan pelatihan adalah dosen Jurusan Tari STSI, Yedi Heryadi. Pada
workshop tersebut, Yedi dibantu oleh
beberapa penari dari STSI memperagakan tarian rakyat khas Jawa Barat kepada
peserta yang mayoritas bukan orang Jawa Barat.
Menurut Arniz, yang
diundang sebagai peserta workshop
tersebut merupakan mahasiswa jurusan seni tari dari berbagai daerah Indonesia.
“Tadinya mengundang dari berbagai daerah seperti dari Padang Panjang, Denpasar,
Yogya, Surabaya, Solo dan Bandung. Tapi ternyata yang datang Cuma dari
Surabaya, Solo dan Bandung,” ujarnya. Ia menambahkan, peserta dari Surabaya 9
orang, Solo 13 orang penari dan 7 pemusik, kemudian dari Bandung 11 orang,
yaitu dari Universitas Pendidikan Indonesia.
Arniz
mengatakan, selain workshop tari
rakyat, sebelumnya acara yang diketuai oleh Risa Heryani Amanah tersebut telah
mengadakan Seminar dengan tema yang sama. “Pembicaranya adalah dosen STSI
Bandung juga, FX Widaryanto dan Toto Amsar Suanda,” katanya. Selain itu juga
ada penampilan tari-tarian yang dibawakan oleh para undangan, yakni tarian
daerah khas mereka masing-masing.
Yedi Heryadi,
selaku pemberi materi pada workshop
tari rakyat mengatakan bahwa tarian yang ia ajarkan merupakan tari Ketuk Tilu
yang diiringi musik tari Gaplek. “Tari tersebut bermakna sebagai tari yang
disukai dan penyemangat bagi para jawara,”katanya menjelaskan. Ia menambahkan,
tari tersebut mengandung banyak unsur pencak silatnya.
Yedi
melanjutkan, tarian rakyat Jawa Barat memiliki perbedaan tersendiri dengan
tarian rakyat khas Solo. “Tarian rakyat Solo cenderung mengarah pada kehidupan
keraton,” katanya. Ia menambahkan, makna di Jawa Barat berbeda, yaitu
tergantung pada daerah masing-masing. “Di Garut bermakna pencak silat, di
Subang lebih bermakna untuk upacara,” katanya.
Menurut Yedi,
saat ini tarian rakyat, khususnya tarian Ketuk Tilu peminatnya dapat dikatakan
sedikit. “Tarian ini dulu sangat menarik pada tahun ‘70-‘80an. Sekarang tinggal
orang tua saja yang banyak melestarikannya,”katanya. Afif-mj03
Tidak ada komentar:
Posting Komentar